PERIHAL MEMBACA

Seperti yang kita ketahui, masih banyak orang yang tinggal di pedalaman Indonesia yang tidak bisa membaca dan menulis atau tunaaksara. Tapi jangan salah loh, bukan hanya di pedalaman melainkan di kota besar seperti Jakarta, juga masih ada yang ‘tunaaksara’.

Saya suka menonton trailer film dan karena itulah saya selalu berusaha datang tepat waktu di studio di mana saya akan menonton sebuah film. Biasanya setelah pemutaran trailer-trailer film selesai, akan ada pemutaran iklan dari bioskop yang bersangkutan maupun video peringatan-peringatan tentang apa yang tidak boleh dilakukan di dalam studio bioskop. TIDAK BOLEH MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR, ah masih banyak kok yang melanggar dan lagipula harga makanan dan minuman yang terlalu mahal (yang dijual di bioskop) membuat para penonton memilih untuk membeli makanan dan minuman dari luar kemudian membawanya saat nonton di dalam studio. (adalah trik tersendiri untuk menghindari cegatan petugas yang jaga bioskop.) TIDAK BOLEH MEREKAM ATAU MENGAMBIL GAMBAR, kayanya DVD bajakan sekarang udah lebih bagus kualitasnya (mungkin hasil download ilegal?), bukan yang masih goyang-goyang karena tangan orang yang ngerekam langsung dari layar bioskop. TIDAK BOLEH MEROKOK, aduh kelewatan dan gak tau diri banget kalo ada yang sampai ngerokok di dalam studio. (middle finger for you, assholes.) TIDAK BOLEH MENAIKKAN KAKI KE KURSI DI DEPANNYA, ada gitu yang bakal kaya gini? Selain gak sopan, gak pewe juga kali duduk kaya gitu.

Buat peringatan yang terakhir, I do really think that way until… Hari Minggu kemarin. Ketika film udah mulai opening credit, masuklah empat anak remaja (dua perempuan, dua laki-laki) duduk di barisan belakang saya. Saya menyikapi keterlambatan mereka dengan biasa saja, toh saya juga pernah terlambat masuk ke dalam studio. Namun, ketika satu laki-laki mulai menaikkan kakinya ke kursi di depannya (baca: kursi di barisan saya), saya mulai geram. Emang gak ada sih orang yang duduk di depan si pelaku ini tapi tetep aja menganggu pandangan mata. Iya, kan?

“HEH GILA YA LO, sepatu boleh keren tapi duduk tetep aja kaya supir angkot! Ngerti etika gak sih? Emang ini bioskop punya nenek moyang lo?!” kata saya, dalam hati. Saya hanya bisa menahan emosi di dalam hati di tengah gelegaran tawa mereka (yang super lebay) karena filmnya lucu. (udah gak tau sopan santun, norak lagi ih.) Andaikan saya bukan perempuan umur (hampir) 17 tahun dan lebih punya keberanin dan mau cari masalah, pasti sudah saya tegur dan maki-maki. Andai saja.

Kejadian ini terjadi di sebuah bioskop di mall yang cukup elit di Jakarta dan harga bioskop di mall ini juga terbilang sudah mahal. Tapi menurut saya, justru karena itulah kita dituntut untuk bersikap elit juga, bukan bersikap seenaknya karena berasa udah bayar harga mahal buat nonton di situ. Penampilan boleh oke dan pake sepatu mahal seolah-olah ke mall naik BMW, tapi sikap kok gak lebih sopan dari supir angkot yang jarang ke bioskop? Makanya, lain kali jangan terlambat ya dateng ke bioskop biar bisa lihat sendiri, apa aja yang gak boleh dilakukan di dalam studio. Naikkin kaki ke bangku di depannya juga gak boleh loh, wahai anak remaja yang pasti masih suka labil dan galau daaaaan tidak tau bagaimana harus mengatur sikap. Cepet tobat, yak.

Terbukti kan, di Jakarta aja masih ada yang ‘tunaaksara’, di kota sekeren dan semaju Jakarta. Sekarang jangan bosen dan males ya kalo disuruh belajar atau sekolah. Nanti kalo udah lulus terus tetep gak bisa ‘baca’, gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s